Vatican City (AP) – Pemilihan paus adalah ritual yang kaya akan tradisi
dan simbolisme Gereja Katolik. Di sini ada sumpah rahasia, nyanyian
Gregorian yang menghipnotis, dan kardinal yang mengenakan pakaian merah
memenuhi Kapel Sistine. Sementara itu, semua masyarakat di luar Basilika
Santo Petrus menunggu asap putih atau hitam untuk mengetahui apakah
mereka seorang paus baru telah terpilih.
Sebagian besar ritual saat ini merupakan karya Uskup Agung Piero Marini.
Sebagai
pemimpin perayaan liturgi Vatikan selama dua dekade di bawah Paus
Yohanes Paulus II, Marini menyiapkan upacara pemakaman untuk sang
mendiang paus dan pemilhan (konklaf) yang memilih Paus Benediktus XVI.
Dia selalu berada di samping Kardinal Joseph Ratzinger setelah
pemilihan, ketika paus baru mengucapkan kata "saya menerima" — secara
resmi memulai jabatan kepausannya pada 19 April 2005.
"Saya masih
ingat dengan perasaan emosional, keheningan yang ada — partisipasi para
kardinal," kenang Marini dalam sebuah wawancara di kantornya di
Vatikan. "Itu adalah peristiwa yang telah dipersiapkan dengan
hati-hati."
Konklaf bulan depan akan memilih pemimpin ke-266 bagi
miliaran umat Katolik di dunia. Yang berbeda kali ini adalah, paus
terakhir masih hidup.
Pengunduran diri Benediktus, paus pertama
yang mengundurkan diri dalam 600 tahun terakhir, telah menyebabkan
kekacauan di Vatikan. Tidak ada yang tahu pasti sebutan untuknya setelah
dia mundur, atau apa yang akan dia kenakan setelah 28 Februari. Tapi
satu hal yang jelas, aturan dan ritual untuk memilih penggantinya akan
mengikuti "kitab" Marini tentang bagaimana menjalankan konklaf.
Kitab
itu adalah sebuah buku tebal padat dengan dekrit yang penuh catatan
kaki, dasar perencanaan, petunjuk dan foto. Buku itu akan menjadi
pedoman ketika 117 kardinal berkumpul di Kapel Sistine untuk memilih
pengganti Benediktus.
Vatikan mengatakan pada Sabtu bahwa Takhta
Suci dalam beberapa hari atau beberapa pekan mendatang akan menyiarkan
informasi terbaru ke konstitusi apostolik utama yang memandu pergantian
kepausan dengan beberapa upacara yang telah diubah, mungkin
memperhitungkan pengaruh tradisi upacara liturgi utama Benediktus yang
menggantikan Marini pada 2007. Namun prinsipnya kemungkinan akan tetap
sama.
Konklaf dimulai dengan kardinal dalam jubah merah masuk ke
Kapel Sistine, menyanyikan Litani Para Kudus tanpa diiringi musik,
diikuti dengan lagu sakral lain, Veni, Creator Spiritus, memohon campur
tangan para orang-orang kudus dan Roh Kudus saat mereka mengambil tempat
di hadapan lukisan "Penghakiman Terakhir" karya Michelangelo.
Para
kardinal meletakkan tangan mereka di atas Injil dan berjanji untuk
mematuhi kerahasiaan mutlak, baik selama dan sesudah konklaf, dan "tidak
akan pernah memberi dukungan atau bantuan untuk campur tangan, oposisi
atau bentuk intervensi lainnya... dalam pemilihan Paus Roma."
Meski
Vatikan dikenal atas obsesinya terhadap kerahasiaan, sebenarnya ada
alasan sejarah yang bagus mengapa proses konklaf tetap dirahasiakan dan
mengapa kardinal berjanji untuk memberikan suara secara independen, kata
Monsignor Robert Wister, profesor sejarah gereja di Seton Hall
University di New Jersey.
Wister mengatakan, sampai pada awal
abad ke-20, pemilihan kepausan dapat diveto raja-raja Prancis, Spanyol
atau Kaisar Romawi Suci. Para penguasa jarang terlibat tetapi sempat
ikut campur dalam konklaf 1903 untuk menggantikan Paus Leo XII. Orang
nomor 2 di Vatikan setelah Leo, menteri luar negeri Vatikan, sedang
memimpin ketika pemilihannya diblokir Kaisar Austria Francis Joseph.
Pada
akhirnya, pemenangnya Giuseppe Sarto Melchiorre, mengambil nama Pius X —
dan segera menghapuskan hak veto. Namun, kenangan akan campur tangan
luar terus memberatkan College of Cardinals, mengakibatkan mereka
diasingkan sampai mereka mendapatkan seorang paus.
Sekarang
mereka memiliki hotel Vatikan untuk tinggal saat sedang tidak memilih,
namun dilarang melakukan kontak dengan dunia luar: tidak ada telepon,
tidak ada surat kabar, tidak boleh menulis twit.
"Ada ketakutan itu," kata Wister. "Melihat berabad-abad sebelumnya, raja jelas campur tangan, kadang-kadang dengan tentaranya."
Kerahasiaan
dengan ancaman hukuman pengucilan (ekskomunikasi) juga memastikan bahwa
pemenang tidak tahu siapa di antara para kardinal itu yang tidak
memilihnya — sebuah elemen penting untuk menjaga persatuan kepemimpinan
gereja.
"Ini bukan Renaissance saat dia mungkin akan diracuni, namun masalah menghormati manusia," kata Wister.
Setelah
sumpah akhir diambil, pembawa acara perayaan liturgi memberi perintah
"omnes ekstra" (semua orang keluar) dan mereka yang tidak turut serta
dalam konklaf meninggalkan ruangan kapel.
Seorang kardinal tua,
di atas usia 80 dan sehingga tidak memenuhi syarat untuk berpartisipasi,
tetap tinggal dan membaca meditasi tentang kualitas seorang paus yang
harus dimiliki dan tantangan yang dihadapi gereja. Setelah itu, dia dan
pemimpin upacara meninggalkan kardinal dan pemungutan suara pun dimulai.
Pada
hari pertama, hanya satu putaran pemungutan suara diambil, setelah itu
kardinal memberikan dua suara pada pagi hari, dua suara pada siang hari
sampai mereka memiliki seorang pemenang. Diperlukan mayoritas dua
pertiga suara.
Setiap kardinal menulis pilihannya pada kertas
bertuliskan kata-kata "Eligo di summen pontificem," atau "Saya memilih
sebagai Uskup Tertinggi." Mereka mendekati altar satu per satu dan
berkata: "Saya bersumpah disaksikan oleh saksi, Kristus Tuhan yang akan
menjadi hakim saya, bahwa suara saya diberikan kepada orang, yang di
hadapan Tuhan, saya pikir dia seharusnya terpilih."
Surat suara
dilipat dan ditempatkan pada piring bulat dan dipindahkan ke sebuah guci
oval. Setelah suara dihitung dan hasil diumumkan, kertas itu diikat
bersama-sama dengan jarum dan benang, setiap surat suara dicoblos
menembus kata "Eligo." Lalu mereka dibakar dengan bahan kimia untuk
mengirimkan asap hitam (yang berarti tidak) atau putih (yang berarti ya)
membubung keluar dari cerobong asap Kapel Sistine.
Pada 19 April
2005, Ratzinger menerima tanggung jawab itu. Dia lalu dibawa ke ruang
samping untuk berganti jubah putih kepausan. Sebelumnya dia datang
mengenakan jubah merah, yang di dalamnya adalah pakaian hitam kardinal
yang sederhana.
"Tentu saja Paus tidak bisa sepenuhnya berganti
pakaian pada saat itu, sehingga dia pergi keluar dengan pakaian
berlengan hitam itu — kita bisa melihat baju hangatnya!" kenang Marini.
"Tapi bahkan itu adalah sikap manusia bagaimana dia berpakaian sebagai
kardinal."
Marini mendampingi Ratzinger keluar dari ruangan
basilika dan menghadap ke Alun-Alun Santo Petrus, tempat kardinal
mengumumkan "Habemus Papam" (Kita mendapatkan seorang paus) kepada
ribuan orang di bawah. Kardinal mengumumkan nama Ratzinger dalam bahasa
Latin, dan kemudian Benediktus mengucapkan kata-kata pertama di hadapan
publik sebagai paus, mengatakan dia hanyalah "pekerja sederhana dan
rendah hati di ladang anggur Tuhan."
Marini mencatat bahwa
pertemuan pertama paus baru dengan umatnya menelusuri sejarah dengan
tradisi kuno bahwa uskup Roma dipilih rakyat.
"Penampilan paus di
balkon, tepuk tangan dan sorak-sorai sukacita yang meletus ketika dia
keluar," katanya, "dalam beberapa hal, merepresentasikan orang Roma yang
menerima paus mereka."
Itu adalah salah satu simbol kuat dari tradisi konklaf.
"Sebuah
agama bergantung pada kebiasaan dan praktik," kata Monsignor Kevin
Irwin, mantan dekan teologi di Catholic University of America dan
profesor liturgi. "Ini berbeda dengan memasang poster dan melakukan
jajak pendapat tentang siapa yang menang. Ini adalah perbuatan Tuhan."
Sumber: http://id.berita.yahoo.com/rahasia-ritual-dan-sumpah-di-balik-konklaf-115332974.html
Tidak ada komentar:
Posting Komentar